Anjungan Banten




Banten adalah sebuah provinsi di Pulau Jawa, Indonesia. Provinsi ini dulunya merupakan bagian dari Provinsi Jawa Barat, namun dipisahkan sejak tahun 2000, dengan keputusan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2000. Pusat pemerintahannya berada di Kota Serang.



 



 



Kalau kita mendengar kata ‘Banten’ yang mungkin muncul dalam benak kita adalah debus dan ‘eksotisme’ orang baduy, komunitas adat terpencil. Nama Banten itu sendiri  ada yang berpendapat berasal dari kata ‘batang’, nama ibukota Banten yang baru setelah Maulana Hasanuddin menggalakan Prabu Pucuk Umum, penguasa kerajaan Hindu Sunda terakhir.


Saat ini, Banten merupakan provinsi ke-30 di Indonesia yang diresmikan pada 18 November 2000 hasil pemekaran dari provinsi Jawa Barat. Dengan ibukota Serang, provinsi ini baru terbagi menjadi tiga kotamadya dan lima kabupaten, yaitu  kotamadya Tangerang, Cirebon dan Serang, Kabupaten Pandeglang, Serang, Lebak, Tangerang, dan kabupaten Tangerang Selatan. Wilayah Banten teridi dari dataran tinggi, dataran rendah dan dataran pantai berawa-rawa. Penduduknya terdiri dari beberapa suku bangsa, yaitu Banten, betawi, Sunda dan Baduy. Bahasa yang dipergunakan adalah bahasa Sunda-Bante, dan Jawa-Banten, sedangkan orang betawi berbahasa melayu dialek Betawi. Mata pencaharian kebanyakan penduduk disana adalah bertani dan berladang.


Pengaruh kerajaan Islam yang masuk pada abad ke-16 menjadikan Banten sebagai salah satu kerajaan Islam yang memiliki pusat pelayaran dan perdagangan dengan Bandar yang kini dikenal sebagai kota “banten lama”. Banten menjadi pusat perdagangan Asia Tenggara dan sebagai pusat perkembangan agama Islam pada masa pemerintahan Sulta Malik Hasanudin dan Sultan Ageng Tirtayasa. Pengaruh Islam tampak kuat pada kesenian tradisionalnya, misalnya pada rampak bedug. Seni ini memperlihatkan keterampilan dan kelincahan memukul bedug, biasanya dimaikan oleh para gadis dengan menggunakan busana muslimah. Kesenian lain yang bernafaskan Islma adalah kesenian Marawis, syaman, terbang gede, beluk, qasidah dan rudat. Selain itu Banten juga dikenal dengan kesenian yang menonjolkan kekebalan misalnya debus yang menggunakan gerakan dasar yang berupa gerakan silat. Pertunjukan debus memperlihatkan kekebalan tubuh terhadap benda tajam dan panas, diantaranya menusukan paku besar di perut tanpa meninggalkan bekas di kulit dan memasak di atas kepala. Kesenian Banten lainnya yaitu rudat, calung renteng, segeng, dodo, rengkong, angklung buhun, penca gacle, almamad, dan ubrug.


Anjungan Banten di TMII terdapat di daerah terpadu provinsi baru, diapit anjungan Bangka Belitung dan Maluku utara. Dibangun tahun 2008 dan diresmikan pada April 2009 oleh gubernur provinsi banten. Anjungan ini menampilkan bangunan utama berupa rumah berarsitektur Masjid Agung Banten lama yang dibangun oleh Sultan Maulana Hasanudin pada tahun 1566. Bangunan ini berlantai dua, lantai dasar digunakan sebagai tempat peragaan dan pameran, sedangkan lantai atas difungsikan sebagai kantor. Bangunan ini berdenah segi empat dengan atap tingkat bersusun lima, dinel dengan istilah atap tumpang, dua tingkat teratas sama runcingnya, dan pada bagian depan sebelah kanan terdapat  replica menara yang tingginya sekitar 10 meter berbentuk mercusuar. Di dalam bangunan ini dipamerkan berbagai benda budaya dan sejarah Banten, antara lain pakaian adat, alat musik tradisional, peralatan rumah tangga, senjata tradisional dan berbagai kerajinan tangan. Batik berbagai corak khas banten, alat musik debus, rudat, terbang gede, serta baju adat akang dan eteh, dan baju sehari-hari masyarakat Baduy adalah beberapa contoh benda yang dipamerkan. Terdapat juga contoh hasil kerajinan tangan di dalam anjungan ini antara lain kerajinan batu akik, anyam-anyaman kulit kayu, tenuntradisional, dan kerajinan anyaman bambu. Selain itu, berbagai hasil kerajinan tanah liat berupa gerabah, keramik, dan aneka replica makanan Banten juga tersajikan disini. Pada kesempatan tertentu digelar berbagai kesenian khas banten.