Anjungan Bengkulu




Terdapat tiga rumah adat yang ditampilkan di anjungan ini, yakni rumah bangsawan (Rumah Gedang) dan dua jenis rumah rakyat biasa. Ketiganya merupakan rumah panggung yang dibangun di atas tiang setinggi dua meter dari permukaan tanah.



Rumah bangsawan di anjungan ini digunakan untuk tempat pameran berbagai koleksi pelaminan pengantin,  sepasang pakaian adat dari seluruh kabupaten/kota diletakkan di dalam varitin, alat musik, alat pertanian, foto-foto objek wisata dan beberapa peragaan upacara adat. Di bagian serambi terdapat penyajian hasil alam. Di tempat ini juga terdapat penjualan cinderamata berbagai hasil kerajinan tangan.Rumah adat rakyat dibuat seperti aslinya yang dilengkapi perabotan rumah secara lengkap. Rumah adat seperti halnya yang ada di Anjungan Bengkulu diberi hiasan berupa ukiran bermotif tumbuhan atau binatang yang digayakan. Pada kempatan tertentu digelar berbagai tarian adat. Di samping itu juga diperagakan pula beberapa upacara adat.



Anjungan Bengkulu pernah menerima kunjungan Perdana Menteri Papua Nugini dan Presiden Ukraina, disertai dengan penanaman pohon beringin di depan halaman rumah Gedang.





Bengkulu, yang menjadi propinsi sekaligus ibukota tersebut memiliki luas wilayah sekitar 19.788,7 km2 dengan penduduk sekitar 943. 278 jiwa. Penduduk pada umumnya memeluk agama Islam dengan mayoritas mata pencaharian sebagai petani. Bengkulu merupakan daerah yang subur dan kaya, hasil alamnya antara lain: karet kelapa sawit, coklat, rotan dan meranti. Tempat-tempat pariwisana Bengkulu juga tak kalah menarik, sebut saja Benteng Marborough, peninggalan Inggris 3 abad lalu, bekas rumah kediaman Bung Karno dengan Mesjid Jamik yang dirancang oleh Bung Karno, Monumen Parr, Pantai Panjang, danau Dendam tak Sudah dan lain-lain. Bengkulu juga dikenal sebagai tempat tumbuhnya Bungan Rafflesia Arnoldi, sejenis bunga bangkai yang amat besar, yang diketemukan oleh Stamford Raffles, gubernur jendral Belanda yang juga seorang Botanikus. Selain alamnya yang indah, khasanah budaya tradisional Bengkulu juga menarik untuk dikenal. Karena itulah, propinsi Bengkulu membangun anjungannya di TMII agar dapat lebih dikenal oleh khalayak.



Tiga buah rumah adat yang ditampilkan di anjungan Bengkulu merupakan bangunan-bangunan yang berdiri diatas tiang. Satu rumah mewakili rumah bangsawan dan 2 lainnya mewakili rumah rakyat biasa. Rumah adat kaum bagsawan ukurannya lebih besar, dan sepanjang bagian depan dan samping dihiasi dengan ukiran-ukiran. Ruang dalamnya dipakai untuk tempat pameran hasil alam, berbagai objek wisata daerah dan kekayaan fauna Bengkulu. Selain itu, pada hari Minggu dan hari libur di dalam rumah ini juga dilaksanakan pertunjukan kesenian.


 


Salah satu rumah adat penduduk Bengkulu, yang ada di TMII, ditampilkan sebagaimana adanya. Disana dapat kita saksikan serambi, ruang tengah, ruang tidur untuk bapak dan ibu, juga ruang tidur untuk anak gadis dan bujang. Karena orang Bengkulu umumnya beragama Islam, maka dalam kamar-kamar tadi dilengkapi juga dengan alat-alat sembahyang kaum muslim.satu rumah lain yang terdapat di anjungan, dimanfaatkan sebagai tempat peragaan upacara adat/keagamaan seperti: upacara perkawinan, potong rambut bayi, serta upacara-upacara keagamaan . selain itu, alat musik tradisional juga tak mau kalah untuk menunjukan dirinya, disana ditampilkan pula beberapa alat musik tradisional dari Rejang Lembong, yaitu Gong, serdap, kerilu dan gendang


Di kotamadya Bengkulu terdapat upacara Tabot, yaitu upacara yang dihubungkan dengan wafatnya Hasan Husein, cucu Nabi Besar Muhammad, di bulan Muharam.


 


Seperti layaknya anjungan lain, hari Minggu dan hari libur anjungan ini selalu ramai pengunjung, ha ini dikarenakan adanya acara-acara adat yang berhubungan dengan daerah asal anjungan.


 



Telp : 021 – 8562213 / 8519975   Fax : 021 - 8562207