Anjungan Sumatera Utara




Anjungan Sumatera Utara menampilkan enam buah rumah adat, rumah bolon Batak Simalungun, jabu bolon Batak Toba, siwaluh jabu Batak Karo, rumah Batak Pak-Pak Dairi, Nias, dan rumah Melayu.



Pintu anjungan berwujud gapura bertuliskan horas mejuha juha (selamat datang). Ragam hias rumah bolon antara lain sulempat, disebut Sambahou, hiasan kambing berlaga (hambing marsimbat), keyong motif segitiga, cecak, ipon-ipon, dan bidu matogu. Rumah adat Batak Karo, siwaluh jabu, beratap tiga tingkat dengan bentuk segitiga, melambangkan tali pengikat tiga kelompok kerabat (rukuh atau singkep sitelu). Rumah adat Nias, daripada aslinya. Bentuk rumah ini mengandung harapan: jika ada banjir, rumah dapat berfungsi sebagai perahu. Rumah adat Melayu diwakili rumah pesanggrahan dengan serambi depan berfungsi sebagai panggung pertunjukkan aneka seni Batak dan Melayu. Rumah-rumah adat Batak di anjungan ini berfungsi sebagai ruang peragaan berbagai aspek sejarah, tata kehidupan, dan benda-benda budaya, seperti pakaian adat, pelaminan, senjata tradisional, alat musik tradisional, dan ulos.



Anjungan ini pernah dikunjungi tamu-tamu negara sahabat, antara lain Emir Kuwait Sheikh Jaber Al Ahmad Al Sabah (1980) dan Presiden Kazakhstan Nursultan Nazarbayev beserta istri (1995).





Propinsi dengan ibukota Medan ini terdiri dari 8 puak (suku) yang masing-masing memiliki adat istiadat yang berbeda. Sebagian besar masyarakatnya adalah pemeluk agama Islam, sedangkan mayoritas mata pencaharian penduduknya sebagai petani, pedagang, dan nelayan. Sumatera Utara merupakan salah satu dari banyak propinsi yang termasuk kedalam daerah wisata yang potensial, dengan objek wisata seperti Prapat, Brastagi, Danau Toba, Tomok, Mabarita, Simando, Pulau Nias, Kampung Lingga, Sibolgo, Sipiso-piso, Pematang Purba, Hilis Maitano, Bawa Mataluwo dan lain-lain. Untuk mencapai Medan, bisa melalui jalur udara (Bandara Polonia), jalur darat (Trans Sumatera), dan jalur laut (pelabuhan Belawan).


 


Propinsi ini memiliki anjungan dengan 6 buah bangunan rumah adat, yaitu rumah adat Batak Toba, Nias, Batak Karo, dan Batak Simalungun. Bangunan lain yang terdapat di anjungan ini adalah tiruan dari “tempat peranginan” (Panca Persada) suku Melayu. Bagunan yang kecil dan unik ini pada hari Minggu dan hari libur digunakan sebagai tempat pertunjukan kesenian (musik, lagu dan tari) yang ditujukan kepada pengunjung sebagai sebuah sambutan.


Rumah adat besar yang nampak dominan adalah rumah adat Batak Toba, yang dihias dengan ukiran-ukiran besar dengan warna tradisional yang khas, yaitu merah, putih dan hitam. Sepasang Gajah Dompak pada bagian kiri dan kanan bangunan konon berfungsi sebagai penolak bala. Pada masing-masing jendela tertulis segi-segi kehidupan masyarakat tradisional Sumatera Utara pada umumnya. Dua ruangan dalam bangunan ini dipergunakan sebagai tempat yang memperkenalkan berbagai aspek budaya masyarakat Sumatera Utara, sementara lantai atas juga berfungsi sebagai tempat pertunjukan dengan tempat duduk terbatas, sedangkan lantai bawah memamerkan sederetan diorama tentang sejarah, tata kehidupan, adat-istiadat, dan juga gambaran perjuangan pahlawan Si Singamangaraja XII.


Rumah adat Nias terletak diantara rumah adat batak Karo dan Batak Toba. Rumah mungil ini nampak khas dengan bentuk seperti perahu dan tampak langsing dengan topangan tiang-tiang penyangga. Bentuk rumah ini terdapat di Nias selatan, dimana dibagian depan rumah terdapat setumpuk batu setinggi pagar yang sesekali digunakan sebagai perlengkapan “lompat batu”, olah raga tradisional khas Nias, yang sering ditampilkan bersama atraksi “Prajurit Nias”.


Bagian paling barat adalah Rumah Adat Batak Karo (Si Waluh Jabu) yang atapnya bertingkat tiga dan berbentuk segitiga. Konon, pembagian serba tiga ini melambangkan adanya ikatan ”sangkap sitelu” yaitu ikatan tiga kelompok keluarga yang terdiri dari Kalimbutu, Senina dan Sembunyak, sebagaimana pengertian “dalihan na tolu” (tungku nan tiga) pada masyarakat Batak Toba dan Tapanuli Selatan. Di rumah ini terdapat hiasan Cicak yang konon merupakan hiasan penolak bala. Hal menarik lainnya ada pada hiasan di puncak atapnya yang berbentuk segitiga-segitiga. Pada setiap puncak segitiganya terpancang kepala Kerbau yang dalam kepercayaan tradisional dianggap sebagai lambing kesejahteraan bagi keluarga yang menghuninya.


 


Rumah adat Batak Karo di Anjungan ini berisi tentang berbagai aspek budaya seperti benda-benda kerajinan, disamping foto-foto tentang berbagai objek wisata dan segi-segi kehidupan masyarakatnya. Pada tempat ini dapat disaksikan berbagai kain “Ulos”, kain tenunan tradisional yang berarti selimut ini oleh masyarakat dianggap memiliki nilai sacral, dimana pemakainya dapat terbebas dari gangguan roh-roh jahat. Karena itu, Ulos dianggap sebagai sarana keselamatan, hingga pemberiannya kepada orang lain harus dilaksanakan dengan upacara khusus.


 


Masyarakat Sumatera Utara terkenal ulet dan gigih. Banyak diantara mereka menjadi perantau dan mampu bekerja keras dalam berbagai bidang. Namun mereka tak melupakan budaya daerahnya. Karena itulah, di hari Minggu atau hari libur sering diadakan acara seperti festival lagu batak, lomba Tari Melayu, atraksi Lompat batu, dan beberapa peragaan upacara adat seperti “Upacara menyambut laut” dan Manglahat Horbo serta pertunjukan si Gale-gale, patung kayu yang dapat " menari" 


 


Telp : 021 – 3919852 / 3150637   Fax : 021 - 3140818