Anjungan Maluku

Provinsi Maluku terletak di wilayah timu Indonesia dengan ibukota Ambon.Sejak dahulu, Maluku sudah dikenal sebagai daerah penghasil utama rempah-rempah.Daerah ini memiliki ratusan pulau, baik pulau besar dan pulau-pulau kecil. Pulau-pulau besar antara lain pulau Seram, pulau Buru, pulau Yamdena dan pulau Wetar, sedangkan pulau lain yang lebih kecil antara lain pulau Ambon, Banda, Kei, Aru, Saparua dan pulau Tanimbar. Oleh karena banyaknya pulau-pulau, maka Maluku sering dijuluki orang sebagai daerah 'seribu pulau'.

Secara administrative, kepulauan Maluku pada awalnya berada dalam satu provinsi, yaitu provinsi Maluku, namun kemudian dimekarkan menjadi provinsi Maluku dan Maluku Utara.Penduduk di Maluku merupakan masyarakat yang heterogen, hal ini terlihat dari berbagai macam suku bangsa, bahasa dan kehidupan adat-istiadatnya yang berbeda.Suku bangsa yng menonjol diantaranya adalah Ambon, Seram, kei, Yamdena, Buru, banda dan Kisar.Salah satu adat yang sampai saat ini masih hidup adalah Pela, yaitu persekutuan antara dua desa dalam ikatan persaudaraan dengan tidak memandang asal desa dan Agama.Adat Pela ini selain dilaksanakan dalam kegiaatan tolong menolong jika terjadi kesulitan antau bencana, juga dalam kegiatan gotong-royong untuk membanguun masjid, gereja, balai desa (baileo) dan lain-lain.

Anjungan daerah Maluku, di TMII terletak di bagian timur, bersebelahan dengan anjungan Kalimantan Timur dan Sulawesi Utara. Dalam memperkenalkan daerahnya, Maluku menampilkan bangunan Baileo dan rumahLatu atau rumah Raja (kepala desa). Baileo merupakan tempat bermusyawarah dan pertemuan rakyat dengan dewan rakyat, seperti saniri negeri dan dewan adat, yang menunjukanbahwa sistem demokrasi sudah dikenal oleh rakyat lima-siwa sejak dulu. Bangunan Baileo ini merupakan satu-satunya bangunan peninggalan yang menggambarkan kebudayaan siwa-lima, karen itulah dipilih sebagai bangunan yang dapat mewakiliki daerah provinsi Maluku. Patung Martha Cristina Tiahahu dan Pattimura atau Thomas Matulessy, dan patung proses pengolaham sagu melengkapi peragaan budaya Maluku.bangunan Baileo sebagai bangunan induk di anjungan Maluku di tempat aslinya merupakan rumah pangnung yang tidak berdinding, meskipun ada baileo yang lantainya di atas batu semen dan Baileo yang lantainya rata dengan tanah, namun yang palinglazim dank has adakah baileo yang lantainya dibangun diatas tiang. Jumlah tiang baileo melambangkan jumlah marga yang ada di desa bersangkutan. Baileo tanpa dinding mengandung maksud agar roh nenek moyang bebas keluar masuk, sedang lantai tinggi dimaksudkan agar tempat bersemayam roh nenek moyang lebih tinggi dari tempat berdiri orang di desa itu, di samping agar masyarakat mengetahui permusyawarahan berlangsung dari luar ke dalam dan dari bawah ke atas. Di bawah palang atap terdapat hiasan bulan, bintang dan matahari dengan warna merah, kuning dan hitam, lambing ke-siap siagaan balai adat dalam menjaga keutuhan adat beserta hokum adatnya.

Rumah baileo di anjungan Maluku merupakan bntuk baileo terakhir, mencerminkan persekutuan antara dua marga besar di Maluku, Pata Siwa dan pata Lima, yang dilambangkan oleh Sembilan siwa (tiang), di bagian depan dan belakang dari lima tiang samping kiri dan kanan. Kata siwa lima akhirnya mempunyai makna baru 'kita semua punya' dan menjadi lambing persatuan Maluku

Di sini Baileo digunakan sebagai tempat pameran berbagai benda budaya Maluku, anatara lain busana daerah Maluku Utaram busana pengantin Maluku Tengah (pono), busanapengantin Maluku tenggara (sanikin), pakaian sehari-hari (baju cele), kebaya putih untuk petemuan, dan celana makassra untuk pria Maluku tengah. Di samping ping itu juga dipamerkan sanjata tradisional seperti parang dan salawaktu (perisai, tombak, panah, dan pandan dari pelepah sagu) serta kerajinan khas dari cengkeh berupa perahu dan benda-benda lain.

Di bagian lain dipamerkan diorama tentang keindahan alam, berbagai tumbuhan yang dipadukan dengan berbagai satwa seperti cendrawasih, kausari soa-soa dan kuskus.Keindahan lautan Maluku dipamerkan melalui berjenih kerang dan aneka ragam tumbuhan laut dilengkapi dengan berbagai bentuk perahu, seperti krumbai dan semang, alat penangkap ikan, rakit untuk peternakan mutiara di Maluku Tenggara dengan inti mutiara.

Rumah latu berbentuk segiempat, mempunyai serambi untuk menerima tamu pria, ruangan tengah untuk menerima tamu wanita, kamar tidur, serta ruang belakang sebagai ruang makan, duduk dan dapur. Rumah latu di anjungan ini digunakan sebagai kantor.

Setiap minggu pertama, anjungan Maluku mementaskan aneka seni tradisional berupa tari dan lagu, misalnya tari cokolele.

Copyrights 2016, Taman Mini "indonesia indah" All Rights Reserved.