Anjungan Sulawesi Selatan

Propinsi Sulawesi selatan terletak di jazirah barat daya pulau Sulawesi.Berbatasan dengan propinsi Sulawesi tengah di bagian utara. , teluk Bone di sebelah timur dan laut flores di sebelah selatan serta selat makasar di sebelah barat. Propinsi yang terdiri dari 21 kabupaten dan 2 kotamadya, dengan luas sekitar 82.768 km2 ini didiami oleh 4 suku bangsa, yaitu Bugis, Makasar, Mandar dan Toraja. Suku Bugis, Makasar dan Mandar memiliki corak budaya yang hamper sama, sehingga sering disebut sebagai orang bugis-makasar saja. Mereka umumnya tinggal di daerah pesisir dan terkenal sebagai pelaut yang ulung.Sebaliknya, suku Toraja yang tinggal di pedalaman memiliki kebudayaan yang sangat berbeda.

Rumah orang bugis-makasar yang ditampilkan si anjungan sulaewei selatan adalah soa-roja (Bugis) atau balla lompo (makasar), rumah besar yang didiami oleh keluarga bangsawan, duplikat istana sultan hasanudin. Tiga buah rumah lainnya adalah bola (bugis) atau balla (makasar) yang merupakan rumah rakyat pada umumnya. Rumah bangsawan dengan rumah rakyat biasa dibedakan dari susunan tangganya dan susunan atap. Rumah adat bugis-makassar memiliki tiga bagian, yaitu :

1. Rakkeang (bugis) atau pemmakang (Makassar) adalah tempat menyimpan benda-benda pusaka, padi dan persediaan makanan yang lain.

2. Bola atau kale balla terdiri dari ruang-ruang khusus, seperti ruang tamu, ruang tidur dan ruang makan

3. Awasao atau passiringan yaitu tempat memelihara ternak dan menyimpan alat-alat pertanian.

Rumah adat di anjungan ini memiliki fungsi sebagai tempat memamerkan berbagai aspek budaya daerah seperti peragaan perburuan dan hasil hutan, anyaman-anyaman serta peragaan busana dari masing-masing suku.Di bagian lain dapat terlihan berbagai jenis perahu tradisional lambing ketangguhan para pelaut ulung bugis-makassar.

Rumah adat Toraja atau Tongkonan yang ditampilkan adalah rumah pemilik penguasa adat yang diletakan diatas tiga pasang kepala kerbau (kabonga) merupakan symbol kebangsawanan pemilik rumah. Sejumlah lumbung padi (alang) berukir yang berderet di depan rumah juga merupakan ukuran status kekayaan dari sang pemilik rumah.Rumah adat Toraja umumnya menghadap ke utara, atapnya unik berbentuk perahu wangka (bugis), dan biasanya memiliki ukiran dengan arti tertentu.Warnah ukirannya sangat khas, yaitu merah, putih dan kuning serta hitam. Tanduk kerbau di depan rumah menandakan berapa banyak pemilik rumah melangsungkan pemakaman adat. Bagi orang toraja, kerbau memuiliki arti yang sangat mendalam, karena dianggap memiliki magis, terutama tedong bonga (kerbau belang).Kerbau yang dianggap sebagai kendaraan roh di akhirat, oleh karena itu, fungsinya sebagai kurban di upacara pemakaman sangat penting. 'laki padada'., tokoh legendaris yang menurut sejarah merupakan turunan raja-raja Sulawesi selatan juga digambarkan mengendarai seekor kerbau putih sebagai kendaraan mengelilingi alam untuk mencari kedamaian.

Kaunikan lain milik suku toraja yang dapat dinikmati di anjungan ini adalah kuburan keluarga yang terletak di liang-liang batu pada bukit-bukit terjal. Liang (kuburan) dianggap tempat yang sangat penting, karena merupakan rumah bagi arwah orang yang sudah meninggal. Oleh karena itu, liang disebut jugua sebagai tongkonan takkerambu (rumah tak berasap)

Pada sat-saat tertentu, anjungan ini juga kerap melangsungkan pertunjukan seperti upacara adat, dan lain-lain yang berhubungan dengan budaya serta pariwisata daerah tersebut.

Copyrights 2016, Taman Mini "indonesia indah" All Rights Reserved.