Anjungan Sulawesi Tengah

Propinsi Sulawesi Tengah beribukota Palu.Wilayahnya seluas 68.033 km2.Dihuni oleh beberapa suku seperti suku kaili, pamona, mori, bungku, saluan, banggai, balantak, buol, toil-toli. Karena itu, propinsi ini membangun 3 buah rumah adat sebagai bangunan induknya sera sebuah lumbung padi di anjungan Sulawesi Tengah TMII.

Bangunan pertama adalah 'Souraja', yang merupakan model rumah ada bangsawan Kaili yang banyak berdiam di pantai.Rumah diatas tiang ini mempunyai beberapa ruangan. Ruangan depan, yang dinamakan lonta karavana sesuai dengan aslinya digunakan sebagai ruang tamu. Ruang tengah (lonta tatangana), aslinya berfusngsi sebagai ruangan keluarga, namun di anjungan berfungsi sebagai tempat peragaan pengantin bangsawan kaili.Sedang ruang dalamnya yang dinamakan lonta riarana, ditata sesuai fungsi aslinya, yaitu kamar tidur pengantin, kamar anak gadis dan kamar keluarga.Dengan sebuah jembatan, rumah souraja ini masih dihubungkan dengan avu (dapur) yang terletak di belakangnya.

Bangunan kedua adalah Lobo.Bangunan diatas tiang yang memanjang itu aslinya digunakan sebagai balai pertemuan dan pengadilan adat.Beberpa lukisan yang dipajang di depannya merupakan penggambaran sangsi atas pelanggaran dan lambing kesuburan.Seluruh ruangan lobo di ruangan ini dimanfaatkan sebagai tempat untuk memamerkan hasil kekayaan alam dan kerajinannya.Disini dapt disaksikan contoh kayu hitam, hasil tambang, hasil kerajinan tangan dan contoh pakaian-pakaian adat dari berbagai suku di propinsi tersebut.Bahan dan peralatan yang digunakan untuk membuat kain tenun juga dapat diasksikan disana seperti pembuatan kain tenun donggala yang dibuat menggunakan kulit kayu.

Bangunan ketiga disebut Tambi.Bangunan itu adalah model rumah adat To Bada, di Lore Selatan.Arsitektur rumah ini sungguh unik, karena seluruh dindingnya adalah perpanjangan dari atapnya, yang terdiri dari dua pasang.Yang sepasang berbentuk trapezium dan sepasang berbentuk segitiga dengan kemiringan 45 derajat.Sedangkan lantai rumah terdiri dari balok-balok kayu, yang disusun tumpang tindih dan saling kait-mengait.Dengan posisi demikian maka rumah tersebut diletakan pada ari'I hingga Tambi merupakan bentuk rumah diatas tiang, dengan ari'I sebagai tiang penyangga. Karena keunikannya tersebut bangunan ini ditampilkan di anjungan sama persis dengan aslinya, dimana ruang dalamnya merupakan ruang sebuah rumah dengan sebuah dapur yang terletak tepat ditengah. Hal ini dikarenakan Tambi terletak di dataran tinggi yang berhawa dingin, selain sebagai penerangan dapur ini juga berfungsi sebagai penghangat ruangan.

Gampiri adalah bangunan yang berfungsi sebagai lumbung padi. Pada anjungan ini, di bagian depan terdapat kolam yang menggambarkan laut dimana di stepinya ditanami pohon nyiur yang merupakan hasil utama di sector perkebunan. Bangunan Soraja adalah bangunan khas di pesisir pantai yang berada di tepi kolam tersebut, sedang di tepinya dibangun sebuah panggung terbuka kecil yang digunakan untuk pertunjukan musik tradisional (kakula) dan tari-tarian daerah yang dilaksanakan setiap hari MInggu.Beberapa upacara adat seperti Pesta Upacara Vunja, Upacara Adat Nosaviraka dan Balia kerap dilangsungkan juga di anjungan ini.

Copyrights 2016, Taman Mini "indonesia indah" All Rights Reserved.