Anjungan Sulawesi Tenggara

Propinsi ini beribukota Kendari, yang terbagi menjadi 4 Kabupaten, yaitu : Kendari, Kolaka, Muna, Buton dan dua kota administrative yaitu kota Kendari dan Kotif Bau-bau. Daerah ini kaya dengan hasil hutan kayu besi, miba, jati dan rotan, sedangkan perut buminya memberikan nikel dan aspal., masing-masing di Pomalaa dan Buton. Penduduk Sulawesi tenggara terdiri dari beberapa suku yaitu Tolaki, Buton, Mekongga, Muna, dan Kaba Ena di Pulau Kaba Ena yang umumny beragama Islam.Kekayaan daerah ini masih ditambah dengan keindahan alamnya, kini merupakan potensi wisata, yang menjanjikan harapan. Tempat wisata di daerah ini antara lain : kawasan Pantai Nirwana, kawasan wisata, Napabale, objek wisata batu gong, kawasan wisata toil-toli, taman wisata watumuhae, air terjun moramo, pantai lapuko, aira panas ulung golaka. Di samping keratin Buton yang terletak di kota bau-bau. Untuk menggalakan kepariwisataan ryupanya daeraah ini telah siap dengan sarana pelayanan yang memadai berupa hotel-hotel dan penginapan di bangun di tiap kabupaten, di samping upayameningkatkan mutu hasil kerajinannya antara lain kerajinan perak (kendari werk), rotan, dan lain-lain. Anjungan Sulawesi Tenggara memiliki bangunan induk berupa tiruan 'istana sultan buton' yang dinamakan Malige. Bangunan bertingkat empat ini seluruhnya terbuat dari kayu, dengan topangan 40 buah tiang yang berjajar lima ke belakang. Sejumlah tiang yang sama juga digunakan untuk bangunan di tingkat atasnya yang kian menyempit, hingga jarak tiang yang satu dengan yang lainnya mekin ke atas makin pendek. Uniknya bangunan ini aslinya didirikan tanpa tali pengikat aaupun paku, tetapi hanya karena saling kait mengait.Namun nyatanya dapat kokoh diatas Sandi, yang menjadi landasan dasarnya.Aslinya lantai pertama Malige difungsikan sebagai tempat tinggal raja beserta permaisurinya.Karena itu dilengkapi dengan ruang makan, ruang tidur dan ruang tamu yang terletak di depannya.Namun, Malige anjungan ini dipakai untuk memperkenalkan berbagai aspek budaya daerahnya.Di sini dapat disaksikan peragaan pakaian kebesaran Sulta Buton beserta permaisuri, pakaian raja muna, pakaian kapitalao (panglima perang), Bonto Balano (menteri besar) dan pakaian pasi (petugas pengurus benda pusaka keratin, serta pakaian adat dari masing-masing kabupaten yang ada di Sulawesi tenggara).Selain itu di tempat ini juga terdapat berbagai jenis binatang yang diawetkan seperti burung Maleo, Anoa, Biawak dan lain-lain. Seperti daerah-daerah yang lain, pada hari Minggu dan hari libur anjungan ini menyelenggarakan berbagai keseniannya seperti tari-tarian Lariyangi, Linda, Honari dan Manguru di sangping berbagai jenis tari kreasi yang lain. Kesemuanya ditarikan oleh para remaja, yang sebagian merupakan putra-putri asal Sulawesi tenggara yang berdomisili di Jakarta. Upacara adat juga sering ditampilkan disini seperti upacara perkawinan, upacara adat 'motasu' yang merupakan bagian dari upacara pembukaan lading baru, dan jenis-jenis upacara lain. Dalam kesempatan demikian, umumnya acara diakhiri dengan 'Molulo', yaitu menari bersama dengan bergandengan tangan antara pria dan wanita yang membentuk lingkaran.Gaya dan hentakan kaki yang dilakukan seirama dengan ritmik dan dinamiknya musik, membuat jenis tari pergaulan ini amat menarik dan mampu memberikan kegembiraan dalam suasana yang akrab.

Copyrights 2016, Taman Mini "indonesia indah" All Rights Reserved.